{"id":1,"date":"2026-06-16T15:32:17","date_gmt":"2026-06-16T15:32:17","guid":{"rendered":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/?p=1"},"modified":"2026-06-22T07:48:08","modified_gmt":"2026-06-22T07:48:08","slug":"hello-world","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/hello-world\/","title":{"rendered":"Literasi Kimia"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apakah Literasi Kimia itu ?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Literasi berasal dari kata literacy yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf, sedangkan sains berasal dari bahasa Inggris science yang berarti ilmu pengetahuan. Literasi kimia berasal dari definisi literasi sains (scientific literacy), yang diartikan sebagai kompetensi menggunakan kemampuan sains dalam mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti dalam rangka memahami karakteristik sains sebagai penyelidikan ilmiah, kesadaran tentang sains dan teknologi dalam membentuk lingkungan material, intelektual, dan budaya, serta keinginan untuk terlibat dalam isu-isu terkait sains sebagai manusia yang reflektif&nbsp; (Sothayapetch et al., 2013).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Literasi kimia atau literasi sains dapat di artikan juga sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan, dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta untuk memahami alam semesta dan perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia.&nbsp; (PISA, 2016) menyatakan, literasi sains memiliki pengertian sebagai suatu cara atau metode yang digunakan dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan fenomena-fenomena alam atas perubahan yang terjadi terhadap alam melalui aktivitas manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Literasi sains (science literacy) bukan hal baru dalam dunia pendidikan.&nbsp; Namun sejak dua dekade terakhir,&nbsp; literasi sains menjadi topik utama dalam setiap&nbsp; pembicaraan&nbsp; mengenai tujuan pendidikan sains&nbsp; di sekolah.&nbsp; Literatur&nbsp; dalam&nbsp; bidang&nbsp; pendidikan sains juga menunjukkan bahwa literasi sains semakin diterima dan&nbsp; dinilai oleh para pendidik sebagai hasil belajar yang diharapkan (Lederman, 2014). Trend dalam kebijakan pendidikan sains di abad 21 ini menekankan pentingnya literasi sains dalam pendidikan sains sebagai transferable outcome (Fives et&nbsp; al, 2014).&nbsp; Diskusi tentang tujuan pendidikan sains seringkali diawali dengan isu \u201cliterasi sains\u201d dan frasa itu mewakili harapan kita tentang apa yang seharusnya diketahui dan mampu dilakukan oleh siswa sebagai hasil dari pengalaman&nbsp; belajarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengertian literasi sains itu sendiri jika dikaitkan dengan implementasi&nbsp; pembelajarannya&nbsp; di&nbsp; kelas masih dapat&nbsp; diperdebatkan&nbsp; karena istilah literasi sains&nbsp; itu cenderung abstrak sehingga menimbulkan interpretasi&nbsp; yang bermacam-macam&nbsp; berkaitan&nbsp; dengan&nbsp; hasil belajar yang diharapkan.&nbsp; Namun secara global telah&nbsp; disepakati&nbsp; bahwa&nbsp; tujuan utama&nbsp; mengembangkan literasi&nbsp; sains adalah&nbsp; agar&nbsp; siswa&nbsp; memiliki kemampuan dalam memahami perdebatan sosial mengenai permasalahan-permasalahan yang terkait sains dan teknologi dan turut berpartisipasi didalam&nbsp; perdebatan&nbsp; itu (Roth&nbsp; &amp;&nbsp; Lee,&nbsp; 2004).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Literasi sains memfokuskan pada membangun pengetahuan siswa untuk&nbsp; menggunakan konsep sains secara bermakna, berfikir secara kritis dan membuat&nbsp; keputusan-keputusan yang seimbang dan memadai terhadap permasalahan-permasalahan yang memiliki relevansi terhadap kehidupan siswa.&nbsp; Akan tetapi masih sering dijumpai&nbsp; bahwa praktek pembelajaran sains di berbagai negara&nbsp; mengabaikan dimensi sosial pendidikan sains dan dorongan untuk&nbsp; mengembangkan ketrampilan-ketrampilan siswa yang diperlukan untuk berpartisipasi secara aktif dalam masyarakat (Hofstein, Eilks &amp; Bybee, 2011).&nbsp; Jika ditelusuri lebih rinci sebenarnya ada dua kelompok besar orang yang memiliki&nbsp; pandangan&nbsp; tentang scientific literacy&nbsp; (Holbrook &amp;&nbsp; Rannikmae,&nbsp; 2009).&nbsp; Kelompok pertama, yaitu kelompok science literacy memandang bahwa komponen utama literasi sains adalah pemahaman materi sains yaitu konsep-konsep dasar sains.&nbsp; Pemahaman kelompok pertama inilah yang banyak dipahami oleh guru-guru sains saat ini baik di Indonesia maupun di luar negeri (Sri Rahayu, 2017).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kelompok kedua, yaitu scientific literacy, memandang bahwa literasi sains searah dengan pengembangan life skills (Rychen &amp; Salganik, 2003), yakni pandangan&nbsp; yang&nbsp; mengakui&nbsp; perlunya keterampilan&nbsp; bernalar&nbsp; dalam konteks sosial&nbsp; dan menekankan bahwa literasi sains diperuntukan&nbsp; bagi semua orang, bukan&nbsp; hanya&nbsp; kepada orang yang memilih karir&nbsp; dalam&nbsp; bidang sains atau&nbsp; spesialis dalam bidang&nbsp; sains.&nbsp; Gr\u00e4ber et al (2001) menjembatani kedua kelompok ini dengan model&nbsp; literasi&nbsp; sains seperti gambar 2.4 yang menunjukkan bahwa literasi sains berbasis&nbsp; kompetensi merupakan&nbsp; irisan&nbsp; antara pengetahuan, nilai (etika, moral), dan tindakan (kemampuan prosedural, berkomunikasi, dan interaksi).&nbsp; Model&nbsp; scientific literacy ini menekankan keseimbangan yang integratif dengan melibatkan berbagai kemampuan serta membutuhkan keterampilan dalam pengambilan keputusan&nbsp; terhadap&nbsp; isu-isu&nbsp; sosiosaintifik (socioscientific issues)&nbsp; (Holbrook&nbsp; &amp; Rannikmae, 2007), (Rahayu, 2017).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun terdapat berbagai pengertian literasi sains, namun pada prinsipnya terdapat tiga hal umum yang di sepakati yaitu: (1) pengetahuan tentang konsep&nbsp; dan ide-ide sains, (2) pemahaman tentang proses pencarian dan hakekat dalam&nbsp; memperoleh pengetahuan&nbsp; (nature&nbsp; of&nbsp; science), serta&nbsp; (3) kesadaran akan pengaruh&nbsp; kegiatan ilmiah terhadap konteks sosial&nbsp; dimana&nbsp; kegiatan tersebut&nbsp; dilakukan, dan pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari, pribadi maupun keputusan sosial&nbsp; tentang ide-ide ilmiah dan prakteknya (Ratcliffe dan Millar,&nbsp; 2009), (Rahayu, 2017).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Literasi kimia dapat di deskripsikan dari dua kerangka teori utama, yaitu dari Program for International&nbsp; Student&nbsp; Assessment&nbsp; PISA (OECD, 2006; OECD, 2015), dan kerangka teori yang berasal dari Shwartz&nbsp; et, al&nbsp; (2005, 2006a). Kedua kerangka utama literasi kimia ini&nbsp; bersumber dari pengertian literasi sains&nbsp; yang di kemukakan oleh Bybee (1997).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Domain penilaian literasi oleh PISA di definisikan dalam cara yang sedikit berbeda dari tahun ke tahun.&nbsp; Pada tahun 2000 kerangka penilaian dan item tes yang disediakan spesifik dan menekankan pada kemampuan membaca, tahun 2003 kerangka penilaian lebih difokuskan pada penguasaan matematika, dan tahun 2006 lebih fokus pada ilmu pengetahuan. Survey yang dilakukan PISA sangat penting, sebab terkait evaluasi internasional dalam pendidikan.&nbsp; Instrumen penilaian PISA didasarkan pada definisi secara holistik keterampilan dan kecakapan siswa dalam disiplin ke ilmuan yang di butuhkan pada Abad-21. Menurut PISA literasi sains terbagi dalam tiga dimensi besar yaitu proses sains, konten sains, dan kontek aplikasi sains. Dimensi-dimensi literasi sains tersebut kemudian di elaborasi sehingga menjadi komponen-komponen utama dalam penilaian literasi sains. (Sumber : Disertasi Mahbub Alwathoni UNS 2022).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah Literasi Kimia itu ? Literasi berasal dari kata literacy yang berarti melek huruf atau gerakan pemberantasan buta huruf, sedangkan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":289,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"colormag_page_container_layout":"default_layout","colormag_page_sidebar_layout":"default_layout","footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-1","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1\/revisions\/64"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/media\/289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}