{"id":180,"date":"2026-06-18T02:35:38","date_gmt":"2026-06-18T02:35:38","guid":{"rendered":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/?page_id=180"},"modified":"2026-07-01T14:35:15","modified_gmt":"2026-07-01T14:35:15","slug":"rencana-pembelajaran-fase-e","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/sample-page\/rencana-pembelajaran-fase-e\/","title":{"rendered":"Rencana Pembelajaran Fase E"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Pembelajaran Kelas X Madrasah Aliyah Fase E Berbasis Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Pengertian Umum<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rencana Pembelajaran kelas X Madrasah Aliyah Fase E adalah dokumen kerja guru yang digunakan untuk mengarahkan proses pembelajaran agar tujuan belajar dapat dicapai secara terencana, bermakna, dan terukur. Dokumen ini bukan sekadar administrasi, melainkan panduan praktis yang membantu guru merancang pengalaman belajar peserta didik. Rencana Pembelajaran perlu disusun dengan memperhatikan karakteristik peserta didik kelas X, capaian pembelajaran Fase E, konteks madrasah, kebutuhan belajar, serta nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. Rencana Pembelajaran berbasis pembelajaran mendalam menekankan bahwa peserta didik tidak hanya menghafal materi, tetapi memahami konsep, menghubungkannya dengan kehidupan nyata, mengaplikasikan pengetahuan, dan melakukan refleksi. Sementara itu, Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan pembelajaran sebagai proses memanusiakan peserta didik melalui kasih sayang, keteladanan, kepedulian, penghargaan, dan pembiasaan akhlak mulia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Prinsip Penyusunan<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Guru perlu menyusun Rencana Pembelajaran berdasarkan tiga prinsip utama, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Berkesadaran berarti peserta didik memahami tujuan belajar, mengetahui manfaat materi, dan mampu mengatur proses belajarnya. Bermakna berarti pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata, lingkungan sekitar, nilai agama, dan kebutuhan masa depan. Menggembirakan berarti proses belajar berlangsung aman, nyaman, menantang, tidak menakutkan, serta memberi ruang bagi partisipasi aktif peserta didik. Dalam konteks Kurikulum Berbasis Cinta, guru perlu memastikan bahwa setiap pembelajaran menumbuhkan lima nilai utama: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air. Nilai tersebut tidak harus ditulis secara kaku pada setiap aktivitas, tetapi perlu tampak dalam tujuan, kegiatan, pertanyaan reflektif, asesmen sikap, dan budaya kelas.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Komponen Minimal Rencana Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rencana Pembelajaran paling sedikit memuat tiga komponen pokok, yaitu tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen. Namun agar lebih operasional, guru Madrasah Aliyah dapat melengkapinya dengan identitas modul, profil peserta didik, pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, materi inti, media dan sumber belajar, diferensiasi, kegiatan pembelajaran, asesmen, tindak lanjut, serta lampiran. Identitas pembelajaran memuat nama madrasah, mata pelajaran, kelas\/fase, semester, alokasi waktu, elemen atau domain materi, dan topik pembelajaran. Pada bagian ini guru juga dapat menuliskan model pembelajaran yang digunakan, misalnya discovery learning, problem based learning, project based learning, inquiry learning, diskusi kolaboratif, simulasi, studi kasus, atau praktik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Penyusunan Tujuan Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tujuan Pembelajaran harus diturunkan dari Capaian Pembelajaran atau Alur Tujuan Pembelajaran. Rumusan tujuan sebaiknya menggunakan kalimat yang menunjukkan kemampuan peserta didik, bukan aktivitas guru. Contohnya: \u201cPeserta didik mampu menganalisis hubungan antara perubahan sosial dan nilai keagamaan dalam kehidupan masyarakat,\u201d bukan \u201cGuru menjelaskan perubahan sosial.\u201d Tujuan Pembelajaran idealnya memuat kompetensi, konten, dan konteks. Kompetensi menunjukkan kemampuan yang akan dicapai, seperti menjelaskan, menganalisis, membandingkan, mengevaluasi, merancang, atau mempresentasikan. Konten menunjukkan materi yang dipelajari. Konteks menunjukkan penerapan dalam kehidupan nyata, lingkungan madrasah, masyarakat, atau nilai keislaman. Guru juga perlu menyusun Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran. Indikator ini berfungsi sebagai tanda bahwa peserta didik telah mencapai tujuan. Indikator dapat berupa kemampuan menjawab pertanyaan, membuat produk, menyajikan argumen, menyelesaikan masalah, melakukan praktik, menyusun refleksi, atau menunjukkan perilaku tertentu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Pemahaman Bermakna dan Pertanyaan Pemantik<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pemahaman bermakna berisi inti pembelajaran yang perlu dibawa peserta didik setelah proses belajar selesai. Bagian ini sebaiknya dikaitkan dengan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, pada materi ekosistem, pemahaman bermaknanya adalah bahwa menjaga keseimbangan alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah dan bentuk cinta kepada lingkungan. Pertanyaan pemantik digunakan untuk membangkitkan rasa ingin tahu. Pertanyaan harus terbuka, menantang, dan tidak hanya menuntut jawaban hafalan. Contohnya: \u201cMengapa ilmu yang kita pelajari harus membawa manfaat bagi sesama?\u201d, \u201cApa akibatnya jika manusia menggunakan ilmu tanpa cinta dan tanggung jawab?\u201d, atau \u201cBagaimana cara menerapkan nilai cinta lingkungan dalam kehidupan di madrasah?\u201d<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Langkah Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Langkah pembelajaran dibagi menjadi pendahuluan, inti, dan penutup. Pada pendahuluan, guru membuka pembelajaran dengan salam, doa, pengecekan kesiapan belajar, apersepsi, motivasi, penyampaian tujuan, dan asesmen awal. Apersepsi sebaiknya menghubungkan materi dengan pengalaman peserta didik. Asesmen awal dapat berupa pertanyaan singkat, kuis cepat, peta konsep, angket sederhana, atau diskusi awal untuk mengetahui kesiapan belajar. Kegiatan inti disusun dengan alur memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Pada tahap memahami, peserta didik mengeksplorasi konsep melalui membaca, mengamati video, mendengarkan penjelasan singkat, menganalisis gambar, berdiskusi, atau mengamati fenomena. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberi pertanyaan pengarah, bukan satu-satunya sumber informasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahap mengaplikasi, peserta didik menggunakan pengetahuan dalam situasi nyata. Bentuk kegiatannya dapat berupa pemecahan masalah, studi kasus, eksperimen sederhana, simulasi, presentasi, proyek kecil, debat terarah, penugasan kelompok, atau praktik keterampilan. Pada tahap ini guru perlu menumbuhkan cinta ilmu melalui proses berpikir kritis, cinta sesama melalui kerja sama, dan cinta lingkungan atau tanah air melalui konteks masalah yang relevan. Pada tahap merefleksi, peserta didik diajak menilai proses dan hasil belajarnya. Refleksi dapat menggunakan pertanyaan: \u201cApa konsep paling penting yang saya pahami?\u201d, \u201cApa manfaat materi ini bagi hidup saya?\u201d, \u201cNilai cinta apa yang dapat saya praktikkan?\u201d, dan \u201cApa yang perlu saya perbaiki dalam belajar?\u201d Refleksi dapat ditulis dalam jurnal, kartu keluar, diskusi singkat, atau rekaman suara. Penutup berisi penguatan konsep, kesimpulan bersama, umpan balik, tindak lanjut, informasi pembelajaran berikutnya, doa, dan salam. Guru perlu memberi apresiasi terhadap usaha peserta didik, bukan hanya hasil akhir.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">7. Asesmen Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asesmen disusun untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran. Guru perlu menggunakan asesmen awal, formatif, dan sumatif. Asesmen awal digunakan untuk memetakan kesiapan belajar. Asesmen formatif dilakukan selama proses pembelajaran untuk memberi umpan balik. Asesmen sumatif digunakan untuk menilai capaian akhir. Teknik asesmen dapat berupa tes tertulis, tes lisan, observasi, penilaian kinerja, proyek, produk, portofolio, presentasi, penilaian diri, dan penilaian antarteman. Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, asesmen juga perlu memperhatikan sikap dan pembiasaan, seperti kejujuran, kepedulian, tanggung jawab, kerja sama, adab berdiskusi, kepedulian lingkungan, dan penghargaan terhadap perbedaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rubrik penilaian harus jelas. Misalnya, pada tugas presentasi, aspek yang dinilai meliputi ketepatan isi, kekuatan argumen, kerja sama kelompok, komunikasi, kreativitas media, dan nilai karakter yang tampak. Hasil asesmen digunakan untuk tindak lanjut berupa remedial, pengayaan, bimbingan individual, atau perbaikan strategi pembelajaran.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">8. Diferensiasi dan Inklusi<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Guru perlu memperhatikan perbedaan kemampuan, minat, gaya belajar, dan latar belakang peserta didik. Diferensiasi dapat dilakukan pada konten, proses, produk, atau dukungan belajar. Peserta didik yang membutuhkan bantuan dapat diberi lembar panduan, contoh, pasangan belajar, atau penjelasan tambahan. Peserta didik yang cepat memahami materi dapat diberi tugas pengayaan, proyek lanjutan, atau tantangan berpikir tingkat tinggi. Suasana kelas harus aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari ejekan. Guru perlu menggunakan bahasa yang santun, menghargai jawaban peserta didik, dan menghindari tindakan yang mempermalukan. Hal ini sejalan dengan semangat pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">9. Penggunaan Teknologi dan Sumber Belajar<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Teknologi dapat digunakan untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Guru dapat menggunakan video, simulasi, kuis digital, infografik, presentasi, e-modul, platform pembelajaran, atau sumber terbuka yang relevan. Sumber belajar juga dapat berasal dari Al-Qur\u2019an dan hadis yang relevan, buku teks, lingkungan madrasah, berita aktual, narasumber lokal, laboratorium, perpustakaan, dan pengalaman peserta didik.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">10. Evaluasi Rencana Pembelajaran<\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah digunakan, Rencana Pembelajaran perlu dievaluasi. Guru dapat menanyakan: Apakah tujuan tercapai? Apakah peserta didik aktif? Apakah kegiatan sudah bermakna? Apakah nilai cinta tampak dalam proses belajar? Apakah asesmen sesuai tujuan? Apakah ada peserta didik yang membutuhkan tindak lanjut?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil evaluasi menjadi dasar perbaikan Rencana Pembelajaran berikutnya. Dengan demikian, penyusunan Rencana Pembelajaran bukan pekerjaan sekali jadi, tetapi proses reflektif dan berkelanjutan agar pembelajaran kelas X Madrasah Aliyah benar-benar mendalam, mencerdaskan, menenangkan, dan menumbuhkan karakter penuh cinta.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table is-style-stripes\"><table><thead><tr><th class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">No.<\/th><th>Urutan Penyusunan<\/th><th>Yang Dilakukan Guru<\/th><th>Hasil yang Ditulis dalam Rencana Pembelajaran<\/th><th>Integrasi Pembelajaran Mendalam &amp; Kurikulum Berbasis Cinta<\/th><\/tr><\/thead><tbody><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">1<\/td><td>Mengisi identitas pembelajaran<\/td><td>Menuliskan data dasar pembelajaran.<\/td><td>Nama madrasah, mata pelajaran, kelas X\/Fase E, semester, alokasi waktu, topik, dan pertemuan.<\/td><td>Menyesuaikan konteks madrasah dan karakter peserta didik.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">2<\/td><td>Menganalisis CP dan ATP<\/td><td>Membaca Capaian Pembelajaran dan Alur Tujuan Pembelajaran yang relevan.<\/td><td>Kompetensi utama yang akan dicapai peserta didik.<\/td><td>Pembelajaran tidak hanya mengejar materi, tetapi juga membangun karakter, nalar, dan akhlak.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">3<\/td><td>Merumuskan Tujuan Pembelajaran<\/td><td>Menurunkan tujuan dari ATP dengan kalimat operasional.<\/td><td>\u201cPeserta didik mampu \u2026\u201d disertai konten dan konteks.<\/td><td>Tujuan diarahkan pada kemampuan memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">4<\/td><td>Menentukan indikator ketercapaian tujuan<\/td><td>Membuat tanda keberhasilan belajar yang dapat diamati atau diukur.<\/td><td>Indikator berupa kemampuan menjelaskan, menganalisis, menyajikan, membuat produk, atau merefleksi.<\/td><td>Indikator mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai cinta.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">5<\/td><td>Menulis pemahaman bermakna<\/td><td>Merumuskan inti materi yang bermanfaat bagi kehidupan peserta didik.<\/td><td>Pernyataan singkat tentang manfaat materi dalam kehidupan nyata.<\/td><td>Mengaitkan ilmu dengan kebermanfaatan, kepedulian, dan tanggung jawab.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">6<\/td><td>Menyusun pertanyaan pemantik<\/td><td>Membuat pertanyaan terbuka yang menantang rasa ingin tahu.<\/td><td>Minimal 2\u20133 pertanyaan HOTS.<\/td><td>Pertanyaan mendorong berpikir kritis, empati, dan kesadaran moral.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">7<\/td><td>Menentukan materi esensial<\/td><td>Memilih materi inti, bukan semua isi buku.<\/td><td>Pokok materi, konsep kunci, istilah penting, dan contoh kontekstual.<\/td><td>Materi dihubungkan dengan kehidupan peserta didik, lingkungan, masyarakat, dan nilai keagamaan.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">8<\/td><td>Merancang asesmen awal<\/td><td>Menentukan cara mengetahui kesiapan awal peserta didik.<\/td><td>Kuis singkat, tanya jawab, peta konsep, angket, atau diskusi awal.<\/td><td>Guru memahami kebutuhan belajar peserta didik secara adil dan penuh kepedulian.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">9<\/td><td>Merancang kegiatan pendahuluan<\/td><td>Menyusun pembuka pembelajaran.<\/td><td>Salam, doa, apersepsi, motivasi, penyampaian tujuan, dan asesmen awal.<\/td><td>Membangun suasana aman, nyaman, religius, dan menggembirakan.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">10<\/td><td>Merancang kegiatan inti tahap memahami<\/td><td>Menyusun aktivitas eksplorasi konsep.<\/td><td>Membaca, mengamati video\/gambar, diskusi, demonstrasi, simulasi, atau penjelasan singkat.<\/td><td>Peserta didik aktif membangun pemahaman, bukan hanya menerima ceramah.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">11<\/td><td>Merancang kegiatan inti tahap mengaplikasi<\/td><td>Menyusun aktivitas penerapan konsep.<\/td><td>Studi kasus, eksperimen, proyek kecil, latihan pemecahan masalah, presentasi, atau kerja kelompok.<\/td><td>Peserta didik menerapkan ilmu untuk menyelesaikan masalah nyata dan belajar bekerja sama.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">12<\/td><td>Merancang kegiatan inti tahap merefleksi<\/td><td>Menyusun aktivitas pemaknaan belajar.<\/td><td>Jurnal refleksi, kartu keluar, diskusi reflektif, atau pertanyaan evaluasi diri.<\/td><td>Peserta didik menilai proses belajar, sikap, dan nilai cinta yang dapat dipraktikkan.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">13<\/td><td>Merancang kegiatan penutup<\/td><td>Menentukan cara mengakhiri pembelajaran.<\/td><td>Kesimpulan bersama, penguatan konsep, umpan balik, tindak lanjut, informasi materi berikutnya, doa.<\/td><td>Guru memberi apresiasi terhadap usaha peserta didik dan membangun motivasi belajar lanjut.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">14<\/td><td>Menyusun asesmen formatif<\/td><td>Menentukan penilaian selama proses belajar.<\/td><td>Lembar observasi, kuis, pertanyaan lisan, catatan diskusi, tugas singkat.<\/td><td>Asesmen digunakan untuk memperbaiki pembelajaran, bukan hanya memberi nilai.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">15<\/td><td>Menyusun asesmen sumatif<\/td><td>Menentukan penilaian akhir tujuan pembelajaran.<\/td><td>Tes tertulis, proyek, produk, presentasi, praktik, atau portofolio.<\/td><td>Menilai pemahaman mendalam, kemampuan menerapkan konsep, dan komunikasi ilmiah.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">16<\/td><td>Menyusun rubrik penilaian<\/td><td>Membuat kriteria penilaian yang jelas.<\/td><td>Rubrik aspek isi, proses, kerja sama, komunikasi, kreativitas, dan karakter.<\/td><td>Rubrik dapat memasukkan kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">17<\/td><td>Menentukan diferensiasi<\/td><td>Menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.<\/td><td>Diferensiasi konten, proses, produk, atau dukungan belajar.<\/td><td>Semua peserta didik mendapat kesempatan belajar secara adil, inklusif, dan tidak dipermalukan.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">18<\/td><td>Menentukan media dan sumber belajar<\/td><td>Memilih alat bantu pembelajaran.<\/td><td>Buku, LKPD, video, simulasi, artikel, lingkungan sekitar, Al-Qur\u2019an\/hadis yang relevan, atau sumber digital.<\/td><td>Teknologi dan sumber belajar digunakan untuk membuat pembelajaran lebih bermakna dan menarik.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">19<\/td><td>Menyusun tindak lanjut<\/td><td>Menentukan langkah setelah asesmen.<\/td><td>Remedial, pengayaan, bimbingan, tugas lanjutan, atau proyek reflektif.<\/td><td>Peserta didik yang belum paham dibantu, yang sudah mampu diberi tantangan lebih tinggi.<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-left\" data-align=\"left\">20<\/td><td>Mengecek kesesuaian akhir<\/td><td>Meninjau kembali seluruh komponen.<\/td><td>Rencana Pembelajaran siap digunakan.<\/td><td>Pastikan tujuan, kegiatan, asesmen, pembelajaran mendalam, dan nilai cinta sudah selaras.<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Download Contoh Rencana Pembelajaran (RPP) Kelas 10 Fase E (Dokumen harus disesuaikan lagi). <strong><a href=\"https:\/\/drive.google.com\/drive\/folders\/1ho9IBx-chmdLBtrYJsJsG91cI8kIeFH0?usp=sharing\">Unduh<\/a><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Petunjuk Teknis Penyusunan Rencana Pembelajaran Kelas X Madrasah Aliyah Fase E Berbasis Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta 1. Pengertian<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"parent":2,"menu_order":2,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"colormag_page_container_layout":"no_sidebar_full_width","colormag_page_sidebar_layout":"right_sidebar","footnotes":""},"class_list":["post-180","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/180","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=180"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/180\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":405,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/180\/revisions\/405"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/2"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kimia-majateng.online\/wordpress\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=180"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}